Wed. Nov 25th, 2020

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Belum Lama Memulai Debutnya, Tapi Klub yang Satu Ini Malah Dibenci Banyak Orang

3 min read
Sharing is Caring

RB Leipzig merupakan klub yang berada di Liga Jerman. Dibanding klub-klub besar Jerman seperti Bayern Munchen, Borussia Dortmund, Schalke 04 klub yang satu ini dianggap seperti anak kemarin sore. RasenBallsport Leipzig atau lebih dikenal sebagai RB Leipzig, adalah klub asosiasi sepakbola jerman yang berbasis di Leipzig, sebuah kota yang terletak di Jerman bagian timur.

Klub ini didirikan pada 19 Mei 2009 oleh inisiatif pembuat minuman energi Red Bull, Dietrich Mateschitz, yang membeli hak tim divisi kelima,SSV Markranstad. Usia tersebut terbilang sangatlah muda, dimana kebanyakan klub di dunia mengawali debutnya di abad 20. Mateschitz membeli klub tersebut karena ingin memajukan sepakbola di wilayah jerman bagian timur. Ia juga memiliki target untuk mempromosikan klub baru tersebut ke kasta teratas sepakbola jerman dalam waktu 8 tahun.

RB Leipzig terbentuk dengan bandrol 100 juta euro atau sekitar 1,4 triliun rupiah. Hak tersebut pun membuat Leipzig bisa mengubah nama klubnya sendiri. Sesuai dengan usahanya, klub ini pun merangkak sedikit demi sedikit hingga akhirnya sampai di Bundesliga. Sebelum menjalani musim di Bundesliga, RB Leipzig harus bermain di divisi kelima liga jerman. Hanya satu musim berada di divisi kelima, mereka langsung promosi ke divisi keempat dengan status juara divisi kelima.

Baca juga  Lewandowski Lebih Tajam Ketimbang Messi dan Ronaldo

Bermain di divisi 4 pada Musim 2010/11 dan 2011/12, RB Leipzig selalu gagal promosi. Barulah pada musim 2012/13, mereka berhasil naik level ke divisi 3 liga Jerman setelah menjadi juara di kompetisi tersebut. Hanya butuh dua musim bagi RB Leipzig berkompetisi di divisi ketiga, musim selanjutnya mereka berhasil naik ke Bundesliga 2. Untuk naik ke Bundesliga Jerman, RB Leipzig harus berjuang lagi-lagi selama dua musim. Setelah pada musim 2014/15, hanya finish di posisi kelima. Barulah pada musim 2015/16 mereka naik kasta ke Bundesliga setelah finis sebagai runner up Bundesliga 2.

Musim 2016/2017 menjadi awal bagi Leipzig bermain di salah satu kompetisi terbaik di Eropa. Dianggap sebagai tim debutan, RB Leipzig langsung mengguncang pangging dunia. Mereka mencetak 13 kali kemenangan beruntun di awal musim dan berhasil membuat rekor tim debutan yang mampu melakukan hal itu.

Baca juga  Resmi Berpisah dengan Bayern Munchen, Allegri Jadi Bidikan

Namun, terlepas dari kehebatan klub yang satu ini, Leipzig begitu sangat dibenci banyak orang. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi ?

Kata “RB” adalah alasan pertama kenapa tim ini dibenci. RB yang merupakan singkatan dari Rasenballsport sendiri adalah cara Leipzig untuk menyembunyikan sponsor dalam nama klub. Di Liga Jerman, penggunaan nama sponsor dalam nama klub, merupakan sebuah hal yang dilarang. Akhirnya, klub berusaha menutupi nama tersebut, yang dimana ‘RB’ bisa berarti Red Bull atau RasenBallsport.

Padahal, asosiasi sepakbola Jerman melarang adanya investor besar untuk memiliki sebuah klub. Dengan peraturan 50+1, di mana saham mayoritas harus dimiliki oleh anggota klub. Selain itu, hanya investor yang sudah bersama sebuah klub selama lebih dari 20 tahun yang dapat melewati peraturan 50+1 ini. Sementara Red Bull tidak pernah membuat investasi di Liga Jerman. Kita semua tahu bahwa Red Bull memang identik dengan Olahraga namun bukan di sepakbola.

50+1 ini memungkinkan sebuah klub memiliki investor ramai yang bisa datang dari suporter. Misalnya saja Borussia Dortmund yang memiliki 139.000 anggota atau ‘investor’ yang memiliki hak veto untuk ikut membuat keputusan, seperti harga tiket stadion. Dortmund hanya mematok 62 Euro atau setara 877.000 rupiah per tahun.

Baca juga  Ini 7 Bintang Lapangan Hijau Yang Bergelar Sarjana, No 1 Kok Bisa Ya?

Kehadiran Leipzig tersebut memang tidak melanggar peraturan, akan tetapi cara mereka memanipulasi aturan tersebutlah yang membuat banyak orang di Jerman marah. Leipzig diketahui tetap memiliki anggota klub yang menguasai 51 persen saham klub, namun cuma berisikan 17 orang yang seluruhnya merupakan pegawai Red Bull. Tiap anggota diharuskan membayar 800 euro atau sekitar Rp 12,8 juta per tahun. Jumlah tersebut dua belas kali lipat lebih mahal dari iuran anggota klub di Dortmund yang hanya 62 euro per tahun.

Sejumlah pihak, mulai dari fans hingga petinggi klub lain, sepakat menyebut Leipzig sebagai sebuah alat marketing dari Red Bull. Hal ini dikhawatirkan bisa merusak nilai-nilai sepakbola Jerman yang berpegang kuat pada tradisi dan keberpihakan pada para suporternya.

(Visited 9 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.