Fri. Sep 25th, 2020

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Ternyata Inilah Skandal Terbesar Sepanjang Sejarah Piala Dunia, Kotor dan Menjijikan

5 min read
Sharing is Caring

Piala Dunia tak pernah lelah untuk terus torehkan cerita istimewa. Momen-momen indah nan bersejarah tak pernah lepas dari tangkapan kamera. Gelaran empat tahunan yang temukan negara-negara terbaik seantero dunia itu kian hari kian dinanti. Satu yang paling membekas di hati tentu gelaran Piala Dunia tahun 2002.

Setelah hanya mengitari benua Eropa dan Amerika, FIFA membuat gebrakan menjelang Piala Dunia 2002. Mereka memutuskan ajang empat tahunan saat itu digelar di Asia. Yang menarik, mereka menjadikan dua negara Asia Timur sebagai tuan rumah, yaitu Korea Selatan dan Jepang

Gelaran Piala Dunia ini juga menjadikan Piala Dunia yang menggunakan stadion terbanyak sepanjang sejarah. Diketahui, FIFA memilih 10 stadion di kedua negara tersebut, yang berarti jumlahnya ada 20 stadion yang berbeda di kota yang berbeda pula. Kala itu pun, ada dua negara yang baru ikut dalam gelaran Piala Dunia, yaitu Senegal dan Cina.

Tentunya dalam gelaran Piala Dunia selalu ada momen-momen nyentrik yang menyita perhatian para penonton, seperti juara Bertahan Prancis yang kalah 0-1 dari Senegal yang baru memulai debutnya. Lalu, ada Arab Saudi yang dipangkas habis 8-0 tanpa balas oleh Jerman, sampai momen yang disangka banyak orang sebagai skandal yaitu Timnas Italia yang kalah dari tuan rumah Korea Selatan. Laga tersebut menjadi momen yang kontroversial, sehingga menjadi ciri khas tersendiri bagi Piala Dunia 2002.

Mari kita bahas langsung skandal tersebut.

Korea Selatan yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama Jepang, unggul jauh dari Jepang. Di fase grup, Korea Selatan tampak melenggang mudah, seperti mampu menaklukkan Portugal dan Polandia, lalu imbang dengan Amerika Serikat 1-1. Yang banyak orang menaruh spekulasi skandal, adalah tatkala Korea Selatan menjamu Italia di babak 16 besar, dan berhasil menekuk Italia dengan skor 2-1. Bagaimanapun laga tersebut bisa diasumsikan sebagai laga yang mengandung kontroversi ?

Baca juga  Spanyol 7-0 Malta, Bosnia & Herzegovina 0-3 Italia, Inilah Klasemen Kualifikasi Euro 2020

Nasib tim nasional Italia di Piala Dunia 2002 silam merupakan sebuah ironi. Bagaimana tidak, tim asuhan Giovanni Trapattoni datang dengan status sebagai salah satu tim yang paling diunggulkan di turnamen. Mereka memiliki liga terbaik di dunia kala itu dalam wujud Serie A Italia dan skuatnya dijejali bintang papan atas sepakbola, yang bahkan namanya tak ada yang tak diketahui publik.

Namun, hasilnya jauh dari apa yang diharapkan semua orang. Bisa dikatakan, Italia lolos dari fase grup dengan susah payah. Meski begitu, sebenarnya mereka hanya harus mengalahkan tiga tim kuda hitam, yaitu Kroasia, Meksiko, dan Ekuador. Akan tetapi, tak disangka-sangka, mereka harus K.O. dari tim tuan rumah, Korea Selatan. Saat itu, keputusan kontroversial wasit membuat Italia merana di Korea dan Jepang. Semua bermula pada sebuah hari Daejeon World Cup Stadium, 18 Juni 2002. Sekitar 38.588 orang yang memadati stadion tersebut menjadi saksi bagaimana marahnya Italia melihat sederet perlakuan dari Moreno.

Di tribun pun terjadi hal yang diluar dugaan. Para suporter Korea Selatan memasang spanduk yang bertuliskan ‘Again 1966’. Hal itu menjadikan Gli Azzurri teringat dengan masa kelam Piala Dunia 1966. Kala itu, Italia harus angkat koper lebih awal di babak penyisihan setelah kalah 0-1 Korea Utara. Saat itu bisa dibilang komposisi Italia juga tidak terlalu sempurna. Tak ada Fabio Cannavaro dan Alessandro Nesta sebagai pelindung Gianluigi Buffon. Mau tak mau, Giovanni Trapattoni menggeser Christian Panucci ke tengah untuk berduet dengan Paolo Maldini. Sementara sisi tepi dihuni Francesco Coco dan Mark Iuliano

Laga baru berjalan empat menit, akan tetapi wasit Moreno menghadiahi Korea Selatan penalti, usai Panucci menjatuhkan Seol Ki-Hyeon di kotak penalti. Namun, tendangan Ahn Jung-Hwan masih mampu dihalau oleh Gianluigi Buffon. Merasa berat sebelah, Gli Azzurri membuktikan bahwa mereka bukan tim ecek-ecek dan mampu unggul terlebih dahulu lewat sepak pojok Francesco Totti yang dimanfaatkan dengan baik oleh Christian Vieri menjadi gol lewat sundulan mautnya.

Baca juga  Tidak Hanya VAR yang Membantu Piala Dunia 2018, Ini Beberapa Sistem Selain VAR!

Namun, keadaan genting bagi Italia terjadi di menit 88. Jala gawang Buffon berhasil dibobol oleh Seol Ki-Hyeo yang artinya laga masih harus dilanjutkan ke babak tambahan. Di babak inilah, terlihat bahwa pengadilan Moreno berat sebelah. Di menit 103, Moreno mengusir Totti, usai penggawa AS Roma tersebut beradu dengan Song Chong-Gug dan dianggap diving. Alhasil, Gli Azzurri harus bermain dengan 10 pemain. Kejanggalan selanjutnya tertuang dalam gol Damiano Tommasi yang dianulir. Keputusan Moreno itu kian bikin Mr. Trap marah bukan main. Puncak dari segala klimaksnya terjadi di menit ke-117. Korsel berhasil mengakhiri laga yang kala itu masih menerapkan sistem golden goal via Ahn Jung-Hwan.

Ironisnya, Ahn Jung-Hwan, kala itu adalah salah satu pemain Serie A, yaitu klub Perugia. Di Italia sendiri, banyak yang menolak mengakui kemenangan Korea Selatan. Bahkan sebagai bentuk balas dendam, status pinjaman Jung-hwan dihapus dari tim Serie A, Perugia. Headline surat kabar Italia tak kalah pedasnya. Giorgio Tosatti, seorang jurnalis sepakbola legendaris Italia, bahkan sampai menulis di Corriere della Sera,

“Italia didepak dari Piala Dunia kotor yang mengubah wasit dan hakim garis menjadi pembunuh bayaran.”

Usai laga tersebut, berbagai teori konspirasi pun tersebar di kalangan publik. Seperti, kabar awal yang beredar menyebut jika Moreno memang sengaja menyudutkan Italia, karena dendam timnas negaranya, Ekuador, dikalahkan La Nazionale pada turnamen tersebut hingga gagal lolos dari babak grup.

Baca juga  8 Hal Unik yang Hanya Kamu Temukan saat Traveling ke Jepang

Melihat teori tersebut tersebar luas, FIFA pun melakukan penyelidikan terutama terhadap Moreno. Sampai-sampai, Presiden FIFA saat itu, Sepp Blatter angkat bicara. Ia mengatakan bahwa, kesalahan yang terjadi di lapangan itu murni kesalahan manusia, bukan sebuah hal yang direncanakan.

Opini yang berkembang di Italia saat itu adalah bahwa pertandingan itu sudah diatur sedemikian rupa agar Korea Selatan bertahan lebih lama dalam turnamen dan kepentingan FIFA di Asia bisa diselamatkan tanpa memerdulikan prinsip fair play sepakbola.

Setelah lolos dari hadangan dari Timnas Italia untuk kemudian bertemu Spanyol, Timnas Korea juga kembali tauai skandal. Beberapa keputusan wasit dianggap merugikan Negeri Matador hingga membuat tim tersebut takluk dari Sang Tuan Rumah.

Setelah terus dilakukan penyelidikan, sekitar tahun 2015 lalu, belasan pejabat asosiasi sepak bola dunia, FIFA, akhirnya ditangkap Kejaksaan Agung Amerika Serikat dan anggota FBI dengan tuduhan pencucian uang, pengaturan skor dan pemerasan. Kejaksaan Agung Amerika Serikat saat itu menyelidiki adanya dugaan pengaturan skor di Piala Dunia 2002.

Mantan wakil presiden FIFA, Jack Warner dituduh menjadi pelaku utamanya. Dia menjadi tersangka utama karena telah menginstruksikan wasit asal Mesir, Gamal Al Ghandour yang memimpin pertandingan Korea Selatan melawan Spanyol, untuk mempermudah Tuan Rumah lolos ke babak selanjutnya.

Lalu, Warner juga mengatur pertandingan Portugal melawan Korea Selatan di babak penyisihan grup. Dirinya menyuruh wasit yang memimpin pertandingan, Angel Sanchez, untuk mengatur skor. Sanchez memberikan kartu merah untuk dua pemain Portugal, yakni Beto dan Joao Pinto dan membuat Korea Selatan menang 1-0 serta keluar sebagai juara grup.

Yang paling kontroversial tentu adalah ketika Warner memerintahkan wasit Bryan Moreno untuk memenangkan pertandingan Korea Selatan melawan Italia.

(Visited 19 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.