Thu. Jan 23rd, 2020

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

13 Orang Meninggal Berurutan, Warga di Daerah Ini Gelar Ruwatan Tolak Bala

2 min read
Ruwatan Tolak Bala

Ruwatan Tolak Bala

Sharing is Caring

Tradisi lokal rupanya masih dijalankan dan dipegang kukuh oleh sebagian masyarakat Indonesia. Sebagaimana adat budaya yang terjadi di Banjarsari Blitar Jawa Timur.

Dilansir detik, di sana ada tradisi ruwatan untuk menolak bala. Masyarakat setempat percaya tradisi turun temurun tersebut dapat menghindarkan diri dari berbagai musibah atau bencana. Terlebih lagi di lingkungan tersebut sudah ada warga yang meninggal secara berturut-turut.

Tak kurang 13 warga meninggal secara berurutan dalam sebulan terakhir di Lingkungan Banjarsari Rt 3 Rw 2 Kelurahan/Kecamatan Kanigoro Blitar Jawa Timur. Warga setempat pun lantas menggelar ritual lamatan ruwatan.

Hartono (60 tahun), warga sekaligus sesepuh setempat mengatakan dalam sehari dua sampai tiga warga meninggal secara bersamaan. Mereka meninggal ada yang karena sakit, kecelakaan, dan ada juga yang tiba-tiba meninggal begitu saja tanpa musabab yang jelas.

Baca juga  5 Teori Konspirasi Mengejutkan mengenai Teknologi Alien

Alhasil warga berinisiatif untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut. Menurutnya musibah beruntun yang dialami warganya itu karena mereka telah melupakan tradisi yang seharusnya tiap tahun digelar. Tradisi tersebut yaitu tayuban, sebuah gelaran tarian tradisional yang diiringi tembang dan gamelan.

“Sejak ada perubahan desa menjadi kelurahan, tradisi tayub dihilangkan. Padahal danyangan Jati Kurung sejak dulu menghendaki itu setiap bersih desa bulan Selo. Atau menjelang Mauludan,” ujar Hartono seperti dikutip detik (22/11/2019).

Maka tradisi lamatan ruwatan pun digelar. Dalam tradisi itu dikumpulkan takir atau wadah persegi yang dibentuk dari daun pisang dan diisi berbagai penganan tradisional. Mulai nasi gurih, sambal goreng, mie, telur dadar lengkap dihidangkan.

Baca juga  Tragis, Pasangan Suami Istri Dibunuh karena Pamer Uang di Facebook!

Takir-takir tersebut kemudian ditata berjejer di sepanjang jalan. Hampir seluruh warga keluar rumah dan duduk di depan deretan takir. Sesepuh kampung lantas memanjatkan doa hingga tradisi unik itu diakhiri dengan menyantap takir bersama.

Menariknya lagi, tradisi tersebut rupanya juga didukung oleh kaum muda. Mereka bahkan mau urunan agar kesenian tayuban bisa digelar tahun ini.

(Visited 29 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.