Sat. Sep 26th, 2020

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

#IndonesiaDaruratAsap,Sejarah Riau Sebelum Menjadi Kota Asap Yang Paling Berbahaya Di Dunia

3 min read
#IndonesiaDaruratAsap

#IndonesiaDaruratAsap

Sharing is Caring

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui laman resminya www.bmkg.go.id menempatkan kualitas udaraKota Pekanbaru, Riau dengan kategori berbahaya. Hal ini tak lepas dari kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti wilayah Sumatera.

Dilansir www.cnnindonesia.com (14/09/2019), Dari laman tersebut tercatat konsentrasi PM 10 pukul 12.22 berada di angka 399,41 μgram/m3. Dalam klasifikasi BMKG, konsentrasi PM 10 di atas 350 μgram/m3 sudah dalam kategori berbahaya. Sementara angka normal dari PM 10 harusnya berkisar di angka 0-50 μgram/m3.

Sementara angka tertinggi PM 10 di Pekanbaru mencapai 440,10 μgram/m3 yang terjadi sekitar pukul 09.00 pagi di hari ini. Hingga kini belum ada seruan dari pemerintah terkait asap dan udara di Pekanbaru ini.

Sementara itu indeks pencemaran di Pekanbaru menurut aplikasi Air Visual pada pukul 13.16 WIB mencapai angka 603 US AQI (Air Quality Index). Angka tersebut masuk kategori hazardous atau membahayakan.

Nah, begini sejarah Riau sebelum menjadi kota asap seperti dilansir www.merdeka.com (14/09/2019), Provinsi Riau memiliki empat aliran sungai besar yang membelah daratan yang juga dijadikan sebagai nama-nama kabupaten di Riau. Empat sungai itu adalah Sungai Kampar berada Kabupaten Kampar, Sungai Indragiri, Sungai Rokan dan Sungai Siak.

Baca juga  Tak Banyak yang Tahu, Inilah 10 Kota Tertua yang Pernah Dibangun di Bumi

Nah, sungai-sungai memiliki peran penting asal mula Bumi Lancang Kuning diberi nama Riau.

Menurut sastrawan Hasan Junus yang merupakan keturunan langsung dari Raja Ali Haji mengatakan bahwa ada tiga kemungkinan asal usul penyebutannya Riau. Pertama, toponomi Riau berasal dari penamaan orang Portugis Rio yang berarti sungai.

Kedua, tokoh Sinbad al-Bahar dalam kitab Alfu Laila Wa Laila menyebut ”Riahi” untuk suatu tempat di Pulau Bintan, seperti yang pernah dikemukakan oleh almarhum Oemar Amin Hoesin dalam pidatonya ketika terbentuknya Provinsi Riau.

Ketiga, diambil dari kata “Rioh atau Riuh” yang berarti hiruk-pikuk, ramai orang bekerja. Dari ketiga kemungkinan di atas, kata “Rioh atau Riuh” merupakan hal yang paling sangat mendasar penyebutan nama Riau.

Nama Riau yang berpangkal dari ucapan rakyat setempat, konon berasal dari suatu peristiwa ketika didirikannya negeri baru di sungai Carang untuk jadikan pusat kerajaan. Hulu sungai itulah yang kemudian bernama Ulu Riau. Adapun peristiwa itu kira-kira seperti teks seperti di bawah ini.

Tatkala perahu-perahu dagang yang semula pergi ke Makam Tauhid (ibukota Kerajaan Johor) diperintahkan membawa barang dagangannya ke sungai Carang di pulau Bintan (suatu tempat sedang didirikan negeri baru) di muara sungai itu mereka kehilangan amh. Bila ditanyakan kepada awak-awak perahu yang hilir, “di mana tempat orang-orang raja mendirikan negeri” mendapat jawaban “di sana di tempat yang Rioh” sambil mengisyaratkan ke hulu sungai. Menjelang sampai ke tempat yang dimaksud, jika ditanya ke mana maksud mereka, selalu mereka jawab, “Mau ke Rioh”.

Baca juga  5 Kisah Agama Islam dan Kristiani yang Paling Keren

Pembukaan negeri Riau yang sebelumnya bernama sungai Carang itu pada 27 September 1673, diperintahkan oleh Sultan Johor Abdul Jalil Syah III (1623-1677) kepada Laksamana Abdul Jamil. Setelah Riau menjadi negeri, maka Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, merupakan sultan Riau pertama yang dinobatkan pada 4 Oktober 1722. Setelahnya, nama Riau dipakai untuk menunjukkan satu diantara 4 daerah utama kerajaan Johor, Pahang, Riau dan Lingga.

Setelah Perjanjian London 1824 yang membelah dua kerajaan tersebut menjadi dua bagian, maka nama riau digabungkan dengan lingga, sehingga terkenal pula sebutan Kerajaan Riau-Lingga. Pada zaman pemerintahan Belanda dan Jepang, nama ini dipergunkan untuk daerah kepulauan Riau ditambah dengan pesisir Timur Sumatera.

Baca juga  5 Peninggalan Kuno yang Bikin Bingung Para Ilmuwan

Pada zaman kemerdekaan, Riau merupakan sebuah kabupaten yang terdapat di Provinsi Sumatera Tengah. Setelah Provinsi Riau terbentuk pada pada tahun 1958, maka nama itu di samping dipergunakan untuk nama sebuah kabupaten, dipergunakan pula untuk nama sebuah provinsi seperti saat ini.

Sejak tahun 2002 Riau terpecah menjadi dua wilayah, yaitu Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau. Wilayah yang menjadi Provinsi Riau saat ini berasal dari beberapa wilayah kerajaan Melayu sebelumnya yakni Kerajaan Pelalawan (1530-1879), Kerajaan Inderagiri (1658-1838), dan Kerajaan Siak (1723-1858) dan sebagian dari Kerajaan Riau-Lingga (1824-1913).

Sejarah Riau sudah tercatat beberapa abad yang lalu sebagai peradaban yang aktif dengan hiruk pikuk manusia. Namun, dalam beberapa tahun ini Riau sedang dilanda musibah kebakaran hutan dan lahan sehingga menyebabkan Riau tertutup asap. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pernah menyangkal bahwa tidak ada kebakaran lahan yang terjadi selama pemerintahannya, namun faktanya tidak demikian. Nah, siapa yang harusnya bertanggung jawab atas kejadian tersebut? Apakah kebakaran tersebut secara alami atau terdapat kesengajaan?

(Visited 71 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.