Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Dituduh Eksploitasi Anak Di Bawah Umur, Sejarah PB Djarum Yang Melahirkan Anak-Anak Emas

3 min read
Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir

Sharing is Caring

PB Djarum berencana menghentikan program seleksi beasiswa bulutangkis pada tahun 2020 mendatang. Bukan tanpa alasan, penghentian tersebut terjadi karena adanya pertentangan dari KPAI atau Komisi Perlindungan Anak Indonesia dengan menuding PB Djarum bahwa telah terjadinya praktik eksploitasi anak di bawah umur dengan dipasangnya logo yang identik dengan produsen rokok PT Djarum dan meminta PB melepas logo tersebut.

Berikut sejarah yang telah dirangkum mengenai sejarah PB Djarum yang sejak dulu melahirkan anak-anak emas. Dilansir dari www.pbdjarum.org (10/09/2019), didorong kecintaan Budi Hartono (CEO PT Djarum) pada bulutangkis serta tingginya kegemaran karyawan PT Djarum bermain dan berlatih pada olah raga yang sama. Maka pada tahun 1969 brak (tempat karyawan melinting rokok) di jalan Bitingan Lama (sekarang jalan Lukmonohadi) No. 35 – Kudus pada sore hari digunakan sebagai tempat berlatih bulutangkis di bawah nama komunitas Kudus.

Berawal dari situ, lahirlah atlit muda berbakat, Liem Swie King yang meraih prestasi demi prestasi secara gemilang, menumbuhkan keinginan Budi Hartono untuk serius mengembangkan kegiatan komunitas Kudus menjadi organisasi PB Djarum. Perkumpulan Bulutangkis Djarum atau PB Djarum diresmikan pada 1974.

Baca juga  15 Seragam Sekolah di Dunia yang Paling Keren

Pada 1972, Liem meraih gelar jawara dalam turnamen badminton se-Jawa Tengah level yunior ketika usianya masih 15 tahun. Dilansir www.tirto.id (10/09/2019), kemudian, ia juga menjuarai cabang bulu tangkis dalam Pekan Olahraga Pelajar Indonesia (POPSI) tingkat provinsi. Kejutan terus berlanjut. Liem merengkuh Piala Gubernur Jawa Tengah atau Moenadi Cup 1973 untuk dua sektor sekaligus, yakni tunggal putra serta ganda putra, berpasangan dengan Kartono Hariamanto yang juga berasal dari komunitas yang sama.

Di tahun yang sama, demikian terungkap dalam buku biografi Liem Swie King berjudul Panggil Aku King (2009), putra daerah Kudus ini juga berhasil membawa pulang medali perak di Pekan Olahraga Nasional (PON )1973 untuk cabang bulu tangkis putra. Pihak PT Djarum pun lantas berkomitmen untuk mendukung perkumpulan atau komunitas bulu tangkis di pabriknya itu. Antusiasme karyawan pabrik maupun warga sekitar, termasuk anak-anak, dan tentunya fenomena Liem Swie King yang pada akhirnya mengguratkan prestasi gemilang di tingkat internasional, membuat PT Djarum percaya bahwa mereka bisa berperan besar dalam hal pembinaan bulutangkis.

Baca juga  Pantas Langsing, 5 Artis Ini Ternyata Anti Makan Nasi, No.4 Idaman Kaum Hawa

Kebetulan, Robert Budi Hartono yang tidak lain adalah putra kedua pendiri perusahaan rokok Djarum, Oei Wie Gwan, juga amat menggemari olah raga tepok bulu itu. Maka, pada 1974, perkumpulan latihan badminton itu diresmikan dengan nama PB Djarum. Kelak, PB Djarum selalu melahirkan atlet bulu tangkis dari generasi ke generasi yang turut mengharumkan nama bangsa Indonesia di ajang olahraga badminton level dunia.

Beberapa atlet lahir dan besar dari PB Djarum hingga mengharumkan nama bangsa diajang internasional di antaranya, dilansir www.liputan6.com (10/09/2019), capaian paling membanggakan terjadi pada 1992 dan 2016. Alan Budikusuma mempersembahkan medali emas Olimpiade nomor tunggal putra. Di final dia mengalahkan rekan seklub Ardy B Wiranata.

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mengulang capaian tersebut 14 tahun berselang. Sama-sama besar di PB Djarum, mereka menyumbang medali emas ketujuh Indonesia di Olimpiade

Selain Olimpiade, atlet asal PB Djarum juga berprestasi ajang paling bergengsi All England. Beberapa nama yang sukses juara lebih dari satu kali adalah Liem Swie King (3), Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (3), Haryanto Arbi (2), Rudy Gunawan (2), hingga Kevin Sanjaya (2).

Baca juga  Terdengar dari Ruang Kosong, Suara Pria dan Wanita Merintih, Saat Diselidiki Ternyata Ada

Liliyana Natsir (4 kali), Tontowi Ahmad (2), Haryanto Arbi (2), dan Sigit Budiarto juga memenangkan Kejuaraan Dunia. 

Atlet PB Djarum turut bersinar pada secara kolektif. Catatan paling mentereng terjadi kala Indonesia memenangkan Piala Thomas 1984. Ketika itu tujuh dari delapan anggota tim merupakan anggota PB Djarum.

Sejarah PB Djarum dalam bidang olahraga bulutangkis memang sudah banyak menorehkan atlet-atlet dunia yang hingga mengharumkan nama bangsa. Sejarah panjang prestasi-prestasi tersebut tidak terjadi begitu saja dengan mudah, banyak rintangan jerih payah yang harus dilewati bahkan taklukan. Dengan adanya tudingan hingga penghentian seleksi beasiswa bulutangkis anak, apa kita harus menerima begitu saja hal tersebut sedangkan seperti yang kita ketahui PB Djarum banyak berjasa bagi Indonesia dengan melahirkan anak-anak berprestasi yang mengharumkan nama bangsa Indonesia. Bagaimana menurut kalian atas penghentian beasiswa tersebut?

(Visited 196 times, 1 visits today)