Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Sama Seperti Enam Jenderal, Hidup Aidit Pun Berakhir di Sebuah Sumur, Ini Kisahnya

3 min read
kematian dn aidit

kematian dn aidit

Sharing is Caring

Tanggal 22 November 1965, mungkin adalah tanggal soal bagi Dipa Nusantara atau lebih dikenal dengan panggilan DN Aidit, Ketua Umum PKI. Setelah sekian lama coba menghindar dari kejaran tentara setelah gagalnya gerakan 30 September di Jakarta, Aidit, Ketua PKI yang juga Menko dan Wakil Ketua MPRS kabur dari Jakarta ke Jawa Tengah.

Seperti dikutip dari situs Sindonews.com, di Solo, ia sempat pindah tempat untuk sembunyi. Tapi di tanggal itu, Aidit tertangkap oleh pasukan pimpinan Kolonel Jasir Hadibroto di sebuah rumah milik Kasim. Aidit tertangkap sedang sembunyi di sebuah lemari. Setelah itu nasinya bisa ditebak. Ia mati di eksekusi tentara.

Setelah ditangkap, Aidit sempat diperiksa di markas tentara di Loji Gandrung. Selanjutnya, ia di bawa ke Semarang. Rencananya Aidit akan di bawa ke markas Kodam Diponegoro di Semarang. Tapi entah mengapa, Kolonel Jasir tiba-tiba mengurungkan niat membawa Aidit ke Kodam Diponegoro.

Baca juga  4 Film Besutan Sony Terbaik Sepanjang 2019!

Mungkin karena ada seorang Mayor yang coba meminta Jasir agar menyerahkan Aidit ke tangannya yang membuat anak buah Soeharto itu batalkan rencana membawa bos PKI itu ke Semarang. Jasir justru membawa Aidit ke Boyolali. Aidit di bawa ke markas kesatuan Kostrad di sana.

Di markas Kostrad di Boyolali, Kolonel Jasir meminta anak buahnya agar mencari sumur. Aidit sudah merasa bahwa dirinya akan dieksekusi. Setelah sempat disuguhi kopi dan rokok, Aidit dibawa ke sumur tua tak jauh dari markas tentara.

Di sekitar sumur tua, telah siap regu tembak yang akan mengeksekusi Aidit. Sumur tua itu sendiri terletak di kebun pisang yang rimbun. Suasana sepi saat itu, maklum kebun itu jauh dari pemukiman warga.

Baca juga  5 Misteri Tertua di Dunia yang Berhasil Dipecahkan

Tahu bakal dieksekusi, Aidit panik dan coba menggertak Jasir. Ia mengingatkan Jasir bahwa dirinya adalah seorang Menko dan juga Wakil Ketua MPR. Aidit menggertak bahwa yang dilakukan Jasir itu tak pantas bagi seorang pejabat negara.

Aidit juga sempat menanyakan untuk apa dia di bawa ke sumur tua. “Apa ini sumur? Untuk apa?” Tanya Aidit pada Jasir.

Ditanya seperti itu, Jasir langsung menjawab dengan santai tapi lugas.”Saya mengerti pak, dan kalau bapak mau tahu sumur ini untuk apa? Ini buat bapak. Bapak tahu bukan kalau Pak Yani juga dimasukan sumur seperti ini?” Begitu jawaban Jasir pada Aidit.

Aidit kian pucat wajahnya. Sebelum di eksekusi, ia minta waktu sebentar untuk berpidato. Aidit pun lantas berpidato. Saat ia sebut hidup PKI, Jasir yang sudah jengkel langsung memerintahkan regu tembak menjalankan tugasnya. Maka pelatuk senjata pun ditarik. Bunyi senapan memecahkan keheningan malam. Aidit pun roboh. Hidup Ketua Umum PKI itu pun berakhir di tepi sumur. Sebuah adegan cerita yang mirip dengan para jenderal yang diculik sekelompok tentara pimpinan Letkol Untung Syamsuri.

Baca juga  5 Kebiasaan Turis yang Tak Perlu dilakukan Ketika di Jepang

Setelah ditembak, mayat Aidit pun kemudian dimasukan ke dalam sumur. Sumur lalu dijejali batang pisang dan ranting kayu. Kemudian ranting kayu itu di bakarnya, dengan tujuan untuk menghilangkan jejak. Usai mengeksekusi Aidit, Jasir melapor ke Pangkostrad, Mayjen Soeharto yang sedang berada di Gedung Agung, Yogyakarta. Pada Soeharto, Jasir menyatakan siap bertanggungjawab. Tapi Soeharto menegaskan, biar dia yang tanggungjawab.

(Visited 14 times, 1 visits today)