Thu. Nov 26th, 2020

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Menggetarkan Arahan Jenderal Ahmad Yani Ketika PKI Makin Ngelunjak

1 min read
Jenderal Ahmad Yani
Sharing is Caring

Pertengahan tahun 60-an, adalah masa saat kondisi politik di Indonesia kian memanas. Partai Komunis Indonesia (PKI) makin agresif melakukan manuver. Manuver partai komunis itu membuat gerah Angkatan Darat. Ketika itu yang menjadi orang nomor satu di Angkatan Darat adalah Jenderal Ahmad Yani.

Akhir September 1965, Ahmad Yani menjadi salah satu korban penculikan yang dilakukan sekelompok tentara pimpinan Letkol Untung Sutopo. Ahmad Yani terbunuh bersama dengan lima jenderal angkatan darat lainnya dan satu perwira pertama angkatan darat dalam peristiwa keji yang dikenal dengan peristiwa G30S/PKI.

Ketika itu, satu peristiwa berdarah terjadi di Bandar Betsy Sumatera Utara. Pembantu Letnan Satu, Sudjono dibantai oleh anggota BTI, organisasi underbow PKI. Terbunuhnya Peltu Sudjono membuat marah Jenderal Ahmad Yani. Dalam bukunya, ” Dari Gestapu ke Reformasi Serangkaian Kesaksian,” Salim Said menuliskan pada 14 Juni 1965, di Istana Olahraga Senayan, di hadapan para perwira Angkatan Darat, Ahmad Yani meluapkan kemarahannya atas kematian Peltu Sudjono. Sang jenderal pun dalam pidatonya langsung menyerang PKI. 

Baca juga  Tak Pantas, Para Pelayat ini Malah Asik Selfie di Makam Habibie !

” Kalau Bung Besar (Bung Karno) kepengin punya istri banyak, biarkan saja. Tapi bila Bung Besar mau main mata dengan PKI, maka dia akan berurusan dengan Angkatan Darat,” begitu sepenggal pidato kemarahan Ahmad Yani yang diucapkan dengan bahasa Belanda di hadapan para perwira Angkatan Darat ketika itu. 

(Visited 193 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.