Sun. Nov 1st, 2020

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Bahaya Gamers, Inilah 5 Kasus Pembunuhan Akibat Video Game

4 min read
Sharing is Caring

Sebagai sarana hiburan, video game dapat kita manfaatkan untuk melampiaskan kekesalan setelah seharian penuh melakukan perkejaan yang menguras tenaga dan pikiran, atau juga bisa menjadi hobi yang menyenangkan. Tapi bagi sebagian orang, video game mala bisa menjadi suatu motivasi negatif yang dapat mendorong seseorang melakukan suatu hal yang berpotensi bahaya bagi orang lain.

Berikut ini adalah 5 kejahatan yang berkaitan dengan video games.

5. Grand Theft Auto : Vice City

Devin Moore adalah seorang pembunuh dari Amerika yang diyakini telah melakukan aksinya setelah terinspirasi oleh game Grand Theft Auto: Vice City. Pada 7 Juli 2003, Moore dibawa ke kantor polisi Alabama dengan tuduhan pencurian mobil. Pada saat itu, Moore tidak pernah memiliki catatan kriminal satupun, dan dia pasrah dibawa oleh polisi. Tapi entah mengapa Moore tiba-tiba menyerang petugas Arnold Strickland yang saat itu sedang mencatat pelanggarannya, Moore berhasil merampas senjata Strickland dan menembak kepala Strickland.

Petugas James Crump mendengar tembakan dan merespons. Moore, bagaimanapun, menembakkan tiga tembakan ke Crump, satu mengenai kepala Crump. Akhirnya, Moore memberanikan diri menyusuri lorong dan bertemu dengan petugas lain, Ace Mealer dan menembak kepalanya seperti korban lainnya. Moore kemudian mulai mencuri mobil polisi dan melarikan diri dari stasiun, hanya untuk ditangkap empat jam kemudian di Mississippi.

Di persidangan, pengacara Moore berpendapat bahwa ia dituntun melakukan pembunuhan karena kehidupan Moore yang penuh dengan penganiayaan fisik dan mental serta kecanduannya terhadap video game kekerasan.

Moore adalah seorang gamer khususnya video game Grand Theft Auto: Vice City. Dalam game ini, pemain dapat mencuri mobil, membunuh petugas polisi, dan melakukan tindakan penyiksaan terhadap sesama penjahat.

Baca juga  Universitas ini Tawarkan Beasiswa Kepada Para Pemain Apex Legends

Setelah penangkapannya, Moore membuat pernyataan, “Hidup adalah permainan video. Anda bisa mati kapan saja.” Pada 9 Oktober 2005, Moore dijatuhi hukuman suntik mati.

4. Halo 3

Daniel Petric adalah seorang remaja Amerika yang menembak kedua orang tuanya pada 2007, membunuh ibunya dan melukai ayahnya. Peristiwa ini terjadi setelah mereka menyita salinan Halo 3 dari Daniel. Daniel kemudian menggunakan pistol 9 milimeter milik ayahnya untuk melakukan pembunuhan.

Pistol itu terlihat sama seperti dalam permainan Halo 3, dan ketika Daniel mengambil pistol, ia juga mengambil Halo 3 yang disita orang tuanya. Setelah dia menembak kedua orang tuanya, dia melarikan diri dengan salinan video gamenya setelah kakak perempuannya dan suaminya tiba dirumah untuk menyaksikan pertandingan Cleveland Indian. Daniel akhirnya ditangkap tengah bersembunyi didalam mobil keluarga tak lama setelah itu, dengan Halo 3 masih di kursi depan.

Di persidangan, pengacara mempertahankan Daniel dengan berargumen bahwa karena kecelakaan snowboarding yang membuat Petric terbaring di tempat tidur, ia mengembangkan kecanduan permainan video Halo setelah memainkannya di rumah teman, membuat Daniel tidak dapat beraktivitas normal tanpa memainkan Halo 3. Pernyataan ini tidak diterima dalam persidangan, dan Daniel dihukum dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

3. DOOM

Kasus ini sepertinya tidak perlu diperkenalkan. Pada tanggal 20 April 1999, Eric Harris dan Dylan Klebold memasuki SMA Columbine dan menembaki siswa dan guru, menewaskan 12 siswa dan seorang guru sebelum akhirnya menembak kepala mereka sendiri.

Baca juga  5 Game Legendaris yang Masih di mainkan Sampai Sekarang

Ketika pembantaian berakhir, banyak orang bertanya mengapa kedua remaja ini melakukan tindakan keji seperti itu. Publik menduga bahwa itu dilatarbelakangi dari rasa amarah dan isolasi hingga penyakit mental, ada banyak teori berbeda. Salah satu yang paling lazim hingga hari ini adalah penembakan ini disebabkan oleh efek kecanduan dari permainan video DOOM.

Baik Harris dan Klebold adalah penggemar berat game ini, Harris menggunakannya sebagai dasar untuk proyek sekolah dan menciptakan level permainannya sendiri dan mempostingnya secara online. Level-level ini kemudian dinamai “The Harris Levels” setelah penembakan. Dengan kekerasan permainan yang intens dalam DOOM, itu adalah dugaan yang jelas bagi sebagian besar untuk menganggap bahwa DOOM adalah motivasi para pelaku melakukan pembantaian.

2. Call of Duty : Modern Warfare 2

Anders Breivik adalah penembak massal paling mematikan dalam sejarah manusia, ia merenggut nyawa 69 orang dewasa muda di sebuah kamp politik pemuda di Norwegia pada 22 Juli 2011, setelah membunuh delapan lainnya dengan mengebom sebuah gedung pemerintah, sehingga total korban tewas 77 orang.

Breivik melakukan semua ini bermotivasi politik oleh apa yang ia yakini sebagai “Islamisasi” Norwegia di tangan Partai Buruh Norwegia. Kemarahan inilah yang membuatnya menyerang kamp pemuda mereka, percaya bahwa generasi selanjutnya dari Partai Buruh harus dihilangkan.

Menurut Manifesto-nya, Breivik adalah pemain yang rajin dalam permainan World of Warcraft dan Call of Duty: Modern Warfare 2. Breivik menulis bahwa ia memainkan World of Warcraft untuk relaksasi, sementara ia menggunakan Call of Duty: Modern Warfare 2 sebagai simulator pelatihan, setelah memainkan game menggunakan perangkat hologram untuk membuat gameplay muncul secara tiga dimensi. Versi Call of Duty ini sebelumnya dianggap paling kontroversial karena dalam salah satu misinya mengharuskan player membantai masyarakat tidak bersalah di sebuah bandara.

Baca juga  5 Pemain E-Sport dengan Penghasilan Tertinggi, Semua di Tim yang Sama

Breivik dijatuhi hukuman penahanan, yang minimal sepuluh tahun penjara dan maksimum 21 tahun tetapi dapat diperpanjang tanpa batas waktu berdasarkan bahaya pelaku kepada publik. Ini adalah hukuman maksimum yang tersedia berdasarkan hukum Norwegia.

1. PlayerUnknown’s Battleground (PUBG)

Masih segar dalam ingatan kita tentang kasus penembakan massal di Selandia Baru yang menewaskan 50 orang dan melukai 50 jemaah masijid Christchurch.

Banyak yang mencatat bahwa video streaming Facebook dari penembakan di salah satu dari dua masjid yang diserang di Christchurch Jumat lalu mengingatkan kita pada game tembak-menembak populer seperti PUBG, Freefire, dan game sejenisnya.

Penembak dalam video juga meminta pemirsanya untuk men-“subscribe” ke PewDiePie sebelum ia menyerbu masjid dengan senapan semi-otomatis.

Penyediki menemukan bahwa pelaku memiliki lisensi kepemilikan senjata api sejak tahun 2017, dan senjata yang digunakan oleh penyerang adlaah berjenis semi automatis AR-15, dua shotgun, dan satu senjata api lever-action.

Akan tetapi motif yang dikonfirmasi dari pelaku yang melakukan penembakan massal adalah karena ia menganut paham “islamophobia” dan “white supremacist.”

(Visited 58 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.