Sat. Aug 8th, 2020

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

10 Azab yang Menimpa Orang Mesir Kuno Benar Adanya

4 min read
Sharing is Caring

Tulah Mesir (Makot Mitzrayim) atau yang biasa disebut dengan Sepuluh Tulah Mesir (Eser Ha-Makot) adalah sepuluh bencana yang didatangkan oleh Allah kepada bangsa Mesir sebagaimana dikisahkan dalam Alkitab dan Al-Qur’an, agar meyakinkan Firaun untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan.

Ke-sepuluh bencana itu yang tercatat dalam Alkitab dan Al-Qur’an: 1) sungai Nil dan sumber air lainnya berubah warna menjadi merah darah; 2) Wabah katak; 3) Wabah nyamuk; 4) Wabah lalat; 5) Wabah penyakit sampar pada binatang ternak; 6) Wabah bisul yang tidak bisa disembuhkan; 7) Hujan es bercampur api; 8) Wabah belalang; 9) Gelap gulita; dan 10) Kematian anak sulung semua keluarga Mesir.

Kisah dalam kitab suci ini sebelumnya hanya dianggap mitos belaka, hingga sebuah film dokumenter dari National Geographic Channel bersama sekelompok ilmuwan dan arkeolog menemukan jawaban apa yang mungkin terjadi di masa lalu pada zaman Firaun berkuasa.

Para arkeolog percaya bahwa malapetaka itu terjadi di sebuah kota kuno Pi-Raamses di Delta Nil, yang merupakan ibukota Mesir pada masa pemerintahan Firaun Ramses II, yang memerintah antara 1279-1213 SM.

Kota ini tampaknya telah ditinggalkan oleh penduduknya sekitar 3.000 tahun yang lalu dan ilmuwan mengklaim bahwa kejadian itu memiliki penjelasan.

Dengan mempelajari stalagmit di gua-gua Mesir, mereka telah mampu untuk membangun kembali catatan pola cuaca menggunakan jejak unsur radioaktif yang terkandung dalam batu.

Baca juga  Busana ini Memakan Korban Jiwa!

Mereka menemukan bahwa pemerintahan Ramses bertepatan dengan iklim yang hangat, basah, tapi kemudian beralih ke periode kering.

Profesor Augusto Magini, seorang paleoklimatolog lembaga Heidelberg University untuk fisika lingkungan, mengatakan bahwa Firaun Ramses II memerintah selama periode iklim yang sangat menguntungkan. Ada banyak hujan dan negaranya berkembang. Namun, periode basah ini hanya berlangsung beberapa dekade. Setelah pemerintahan Ramses, kurva iklim berjalan tajam ke bawah.

Para ilmuwan percaya peralihan tiba-tiba daru iklim basah ke kering adalah pemicu pertama dari malapetaka.

Peningkatan suhu dapat menyebabkan sungai Nil mengering, membalikkan kondisi sungai yang jernih menjadi sungai dengan aliran air berlumpur.

Kondisi ini merupakan alasan yang sempurna untuk kedatangan wabah pertama, yang dalam Alkitab digambarkan sebagai Sungai Nil yang berubah menjadi darah.

Dr. Stephan Pflugmacher, seorang ahli biologi untuk Ekologi Air dan Perikanan Daratdi Leibniz Institute Berlin, percaya penjelasan ini bisa menjadi penyebab munculnya ganggang air tawar beracun. Dia mengatakan bakteri, yang dikenal sebagai Ganggang Burgundy Berdarah atau Oscillatoria rubescens, diketahui telah ada sejak 3.000 tahun yang lalu dan masih menyebabkan efek yang sama hari ini.

Para ilmuwan juga mengklaim kedatangan ganggang ini menyebabkan munculnya wabah kedua, ketiga dan seterusnya: katak, kutu dan lalat.

Baca juga  5 Diktator Paling Terkenal di Dunia

Katak adalah pengembangan dari berudu yang menjadi dewasa sepenuhnya diatur oleh hormon yang dapat mempercepat perkembangan mereka pada saat stres.

Kedatangan ganggang beracun akan memicu transformasi seperti itu dan memaksa katak meninggalkan air di mana mereka tinggal. Kepergian katak ini akan berarti bahwa nyamuk, lalat dan serangga lainnya akan berkembang pesat karena hidup tanpa predator untuk menjaga jumlah mereka di bawah kontrol.

Hal ini, menurut para ilmuwan, pada gilirannya menyebabkan tulah kelima dan keenam: ternak yang sakit dan bisul.

Profesor Werner Kloas, seorang ahli biologi di Leibniz Institute, mengatakan bahwa serangga seringkali membawa penyakit seperti malaria, maka yang terjadi selanjutnya dalam reaksi berantai adalah wabah epidemi, menyebabkan banyak manusia yang jatuh sakit.

Bencana alam lainnya terjadi lebih dari 400 mil jauhnya kini juga dianggap ikut bertanggung jawab untuk memicu malapetaka ketujuh, kedelapan dan kesembilan yang membawa hujan es, belalang dan kegelapan ke Mesir kuno.

Salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah manusia terjadi ketika Thera, sebuah gunung berapi yang merupakan bagian dari kepulauan Mediterania Santorini, di utara Kreta, meledak sekitar 3.500 tahun yang lalu, memuntahkan milyaran ton abu vulkanik ke atmosfer.

Nadine von Blohm, dari Institute for Atmospheric Physics di Jerman, telah melakukan percobaan bagaimana bentuk hujan batu es dan percaya bahwa abu vulkanik bisa bentrok dengan badai di atas Mesir untuk menghasilkan badai hujan es yang dramatis.

Baca juga  Ini yang Dilakukan Manusia Di Atas Tempat Tidur 77.000 Tahun Lalu

Dr Siro Trevisanato, seorang ahli biologi Kanada yang telah menulis sebuah buku tentang tulah, belalang juga dapat dijelaskan oleh peristiwa jatuhnya abu vulkanik. Abu yang berjatuhan dari langit menimbulkan anomali cuaca, hingga menurunkan hujan. Pada saat itulah kelembaban udara menjadi tinggi yang mendorong kehadiran belalang.

Abu vulkanik juga bisa memblokir sinar matahari yang menyebabkan cerita dari munculnya wabah ke-sembilan: kegelapan.

Para ilmuwan telah menemukan batu apung, batu yang terbuat dari lava gunung berapi yang didinginkan, selama penggalian reruntuhan Mesir meskipun tidak ditemukan pada setiap gunung berapi di Mesir.

Analisis dari batu itu menunjukkan bahwa batu itu berasal dari gunung berapi Santorini, yang memberikan bukti fisik bahwa pecahan vulkanik dari letusan di Santorini mencapai pantai Mesir.

Penyebab wabah yang terakhir, kematian anak sulung dari keluarga Mesir, dipercaya diakibatkan oleh jamur yang mungkin telah meracuni pasokan gandum keluarga Mesir, yang pertama laki-laki lahir akan memiliki hasil-hasil panen gandum yang pertama, otomatis akan menjadi yang pertama kali jatuh sebagai korban.

(Visited 102 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.