Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Soal Enzo, Mahfud MD Sebut TNI Kecolongan, TNI Ingatkan Kasus Penerimaan Prabowo Dulu?

3 min read
Enzo Zenz Allie

Enzo Zenz Allie

Sharing is Caring

Berdasarkan analisa yang dilakukannya, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyebut TNI kecolongan soal calon prajurit taruna akademi TNI berdarah Perancis Enzo Zenz Allie, yang diisukan terkait dengan organisasi terlarang HTI.

“(TNI) kecolongan menurut saya,” kata Mahfud di Yogyakarta, seperti yang dikutip detikcom Jumat (9/8/2019).

“TNI itu kan lembaga yang dikenal ketat ya, dikenal ketat tahu rekam jejak, kakeknya (Enzo) siapa, kegiatannya apa, ternyata ini lolos di Akmil. Sampai diberi penghargaan kehormatan khusus oleh Panglima, diajak wawancara khusus,” ucapnya. 

Menanggapi opini Mahfud MD tersebut, Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu tetap akan menyerahkan proses pemeriksaan ke TNI.

“Tapi kita lihat dulu, kan lagi diperiksa TNI. Saya nggak mau cawe-cawe (ikut-ikut) dulu lah. Nanti saya ambil alih nanya,” kata Ryamizard di Grand Sahid Hotel, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, seperti yang dikutip detikcom Senin (12/8/2019).

Tak lupa Ryamizard menhelaskan bahwa saat ini TNI tengah mendalami keterkaitan Enzo dengan HTI. Menurutnya, prajurit TNI sebagai penjaga Pancasila memang semestinya harus memiliki jiwa Pancasila.

Baca juga  Berpotensi Kehilangan Kewarganegaraan Indonesia, HRS Cuma Punya Dua Pilihan

“Itu kan baru mau masuk. Saya suruh periksa. Kalau dia memang jiwa begitu (ikut HTI), nggak pantes. Karena TNI itu penjaga Pancasila. Gimana bisa jaga Pancasila kalau orang yang jaga nggak Pancasilais,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Andika Perkasa, menjelaskan kenapa Enzo Zenz Allie, WNI keturunan Prancis, dinyatakan lolos seleksi calon prajurit taruna akademi TNI karena TNI tak boleh bermain pretensi.

“Kan kita nggak boleh berpretensi, kita harus ada praduga tidak bersalah. Kita tidak melihat orangtua (dari Enzo) atau siapa, tetapi yang penting dirinya,” kata Andika di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, seperti yang dikutip detikcom Jumat (9/8/2019).

“Dalam pemeriksaan parameter tes yang kami lakukan, yang bersangkutan oke. Tapi kami juga memahami mungkin ada pendalaman, jadi kita akan lakukan terhadap semuanya bukan hanya kepada dia, dan ini akan melengkapi dari hasil awal,” lanjutnya.

Baca juga  Lolos Ke DPR, Ternyata Segini Jumlah Uang Yang Sudah Dikeluarkan Krisdayanti

Andika menuturkan, pendidikan yang akan ditempuh calon prajurit taruna di Akmil adalah empat tahun. Oleh karenanya, lanjut Andika, sebenarnya masih banyak waktu bagi internal TNI untuk mengukur kemampuan dan integritas calon prajurit tersebut.

Menurutnya institusi TNI selalu melakukan pengawasan secara berkala ke para prajuritnya. Upaya itu dilakukan untuk membentengi anggota dari paham-paham yang tak sejalan dengan Pancasila.

“Jadi bukannya kami kemudian tidak melakukan apa-apa. Terus pembinaan satuan itukan berlangsung terus. Artinya ya setiap hari (dilakukan pengawasan dan pembinaan), setiap saat, sepanjang tahun,” tegas Andika.

Seperti kita ketahui bahwa TNI selama ini instansinya memiliki sistem seleksi mental ideologi. Mulai dari tes tertulis, wawancara, hingga penelusuran media sosial milik calon taruna akmil. “Sistem itu, sudah dari dulu dibakukan,” tutur Sisriadi, Kepala Pusat Penerangan TNI.

Seperti yang dikutip matranews dotid (6/8/2019), menurut Sisriadi, seleksi TNI sangatlah selektif, bahkan kini mencakup penelusuran akun media sosial milik para calon taruna Akmil. Terlebih, dalam uji psikotes pun dapat diukur sejauh mana tingkatan ekstrem ideologi seseorang.

Baca juga  Ingin Indonesia Kacau, Siapa Penumpang Gelap Yang Dimaksud? Andre: Bukan 212

“Kita buktikan dulu dia terpapar atau tidak. Nanti kita dalami. Andaikata iya, ya kita berikan perhatian khusus. Kita kan punya sistem deradikalisasi. Jadi banyak jalan,” jelas Sisriadi mencontohkan bagaimana TNI melakukan seleksi ketat ideologi sejak dulu.

Sisriadi juga menyinggung pada saat penerimaan Prabowo Subianto menjadi taruna Akmil misalnya, kala itu Indonesia sangat anti terhadap Amerika.

“Pak Prabowo waktu masuk TNI kan dia tidak bisa bahasa Indonesia, bisa patah-patah. Wong sekolahnya dari kecil sampai SMA di Amerika kan. Zaman itu kita anti Amerika juga kan. Tapi, enggak ada masalah,” tutur Sisriadi memaparkan.

Kalau berdasar penjelasan TNI di atas maka jelaslah bahwa TNI tidak kecolongan. Proses yang berjalan masih panjang. Tak adil rasanya jika banyak kalangan menghakimi Enzo dari sekarang. Kasus nasionalisme Prabowo salah satu buktinya.

(Visited 18 times, 1 visits today)