Sun. Dec 8th, 2019

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Prabowo-Megawati Akur lewat Politik Nasi Goreng, Siapa Diuntungkan?

2 min read
Prabowo-Megawati

Prabowo-Megawati

Sharing is Caring

Usai melewati masa-masa genting dalam pertarungan politik di pilpres 2019 yang begitu gaduh dan panas, akhirnya dua tokoh dan politisi senior, Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri bertemu di kediaman Megawati, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Rabu (24/4/2019).

Dengan ekspresi wajah semringah dan berseri-seri, Prabowo mengaku mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari PDIP, khususnya Megawati sebagai Ketum.

“Kami menyambung kekurangan sahabat lama saya selalu merasa dapat penghormatan dan perlakuan baik dari sejak dulu,” kata Prabowo dalam jumpa persnya usai bertemu Megawati.

Prabowo juga mengakui bahwa dirinya memiliki prinsip politik yang berbeda. Langkah yang ditempuh pun kerap berseberangan dengan Megawati. Di Pilpres 2014, misalnya, Prabowo memutuskan untuk berpasangan dengan Hatta Radjasa melawan Jokowi-JK yang diusung PDIP. Sepanjang pemerintahan Jokowi-JK, Prabowo pun kerap melontarkan kritik pedas.

Baca juga  Gerindra Berharap PA 212 Undang Prabowo Di Ijtimak Ulama 4

Sementara itu, di Pilpres 2019, Prabowo yang berduet dengan Sandiaga Uno kembali menjadi seteru PDIP yang mengusung Jokowi-Ma’ruf.

Namun, Prabowo menegaskan bahwa dirinya ingin menjadi warga negara yang baik dan berguna bagi bangsa Indonesia. Begitu pula Megawati. Prabowo yakin dirinya dan Megawati memiliki pandangan yang sama, yakni memajukan bangsa Indonesia.

“Karena yang utama kami sama-sama patriot. Komitmen terhadap NKRI harga mati. Perbedaan itu biasa diujungnya selalu ingin lanjutkan menyambung tali persaudaraan hubungan yang rukun, yang baik sehingga kita bisa membantu mengatasi masalah kebangsaan,” kata Prabowo seperti dikutip cnnindonesia.com (24 Juli 2019).

Di tempat yang sama, Megawati menyatakan hal serupa. Semua pihak harus rukun kembali setelah PIlpres 2019. Dengan santai, Megawati pun mengaku memasak nasi goreng untuk Prabowo. Hasilnya, Prabowo menyukai dan bahkan “nambah”.

“Politik nasi goreng yang ternyata ampuh,” kata Megawati sembari tertawa.

Siapa Diuntungkan?

Pertemuan Prabowo-Megawati yang berlangsung hangat dan akrab makin menguatkan opini bahwa “tak ada yang abadi dalam dunia politik, lawan bisa jadi kawan, kawan pun bisa jadi lawan, yang abadi adalah kepentingan itu sendiri”.

Pertemuan dua politisi senior di Teuku Umar itu juga membenarkan adagium “politik itu seni kemungkinan”. Tak ada yang mustahil dalam dunia politik. Apa pun bisa terjadi, tergantung pada kepentingan.

Itulah sebabnya, dunia politik identik dengan “dunia misterius” yang hanya bisa ditemukan jawabannya apabila orang terjun ke dalam kubangan politik yang terjal dan curam.

Persoalannya sekarang, siapa yang diuntungkan di balik pertemuan Prabowo-Megawati?

Tentu para elite yang ada di sekitar Prabowo dan Megawati serta orang-orang yang terlibat dalam penyusunan “skenario” hingga menjadi sebuah realitas dan fakta politik.

Namun, “politik nasi goreng” di Teuku Umar itu diprediksi belum sanggup menurunkan polarisasi dan tensi politik di tingkat akar rumput, khususnya para pendukung Prabowo yang hingga kini belum sanggup menepis kekecewaan beratnya atas pertemuan Jokowi-Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus beberapa waktu lalu.

Bukan mustahil, pertemuan Prabowo-Megawati malah menambah “luka hati” para pendukung Prabowo.

(Visited 23 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.