Wed. Sep 23rd, 2020

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Berkoar Hendak Diseret ke Penjara, Kenapa Bamukmin Bungkam? Serius atau Gimmick?

2 min read
Novel Bamukmin

Novel Bamukmin

Sharing is Caring

Usai Prabowo bertemu Jokowi di Stasiun MRT Lebak Bulus Jakarta, Sabtu (13 Juli 2019), Jubir Persaudaraan Alumni (PA) 212, Novel Bamukmin, tampaknya tidak pernah berhenti bermanuver.

Selain telah memutuskan hubungan dengan Prabowo yang didukung mati-matian PA 212 di Pilpres 2019, Bamukmin juga berkoar hendak diseret dan dijebloskan ke penjara akibat sikapnya mbalela atas seruan Prabowo untuk tidak turun melakukan aksi massa saat sidang putusan Mahkamah Konstitusi (MK) berlangsung.

“Bahkan saya dikabarkan akan ditangkap, cuma saya enggak tahu ditangkap atas permintaan kubu 01 atau 02,” kata Bamukmin Senin (22/7/2019).

Bamukmin mengaku saat ini ada ketidakharmonisan antara kubu PA 212 dan pendukung Prabowo. Ketidakharmonisan tersebut muncul, kata Bamukmin, setelah Prabowo melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi di Stasiun MRT Lebak Bulus beberapa waktu lalu.

Baca juga  Novel Bamukmin: Virus Corona Ini Ujian Buat Bangsa Indonesia! MUI Langsung Bilang Begini

“Suhu politik antara kubu 01 dan 02 memang sudah mereda. Namun justru terjadi kegaduhan di kubu 02 sendiri baik antarpartai yang pernah bersama di Koalisi Adil Makmur, juga di Partai Gerindra dan antara 212 dengan BPN,” kata Bamukmin seperti dikutip jpnn.com (23 Juli 2019).

Kenapa Bungkam?

Namun, sejauh ini Bamukmin tampaknya masih bungkam dan tak mau tunjuk hidung, siapa sesungguhnya yang telah mengancamnya untuk menjebloskan ke penjara. Serius atau sekadar gimmick untuk mencari “panggung politik”?

Banyak kalangan menyebut saat ini PA 212 sudah kehilangan pamor. Seruan Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab yang selama ini dijadikan sebagai rujukan dan kiblat politik PA 212 pun dinilai sudah tak lagi terdengar jelas gaungnya. Bahkan, kepulangannya ke Tanah Air pun menjadi kontroversi dan polemik panas.

Baca juga  Akhirnya Istana Buka Suara Soal Rekayasa Penyerangan Novel Baswedan, Tak Diduga Bilang Ini

Itu artinya, PA 212, mau atau tidak, mesti meneguhkan sikapnya untuk bergerak le “khittah”-nya sebagai di bidang dakwah untuk kepentingan umat. Tak perlu ikut-ikutan larut dalam dinamika politik praktis, kecuali PA 212 bermetamorfosis menjadi partai politik.

Kalau hanya mengandalkan label PA 212 sebagai spirit perjuangan politik ketika massa 212 dianggap sudah tamat, tampaknya PA 212 hanya akan menjadi “pelengkap penderita” dalam jagat politik tanah air.

(Visited 57 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.