Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Anies Sebut Dana Getah Getih IDR 550 Juta, Sang Seniman Bilang IDR 300 Juta, Siapa Benar?

4 min read
Getah Getih

Getah Getih

Sharing is Caring

Menjelang perhelatan Asian Games 2018 sekaligus menyambut Hari Ulang Tahun RI ke 73, Pemrpov DKI Jakarta membuat seni instalasi patung berbahan dasar bambu yang dikenal dengan sebutan Patung Getah Getih yang berarti merah putih.

Berdasarkan penjelasan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, patung itu dibuat dengan anggaran biaya mencapai IDR 550 juta.

Besaran anggaran yang cukup besar ini pun sontak mendatangkan kritik dari banyak pihak. Pasalnya 11 bulan kemudian tepatnya bulan Juli ini Getah Getih sudah dibongkar karena sudah mulai rusak.

Seperti yang dilansir detikcom (19/7/2019), menyatakan, dana itu mengalir ke rakyat kecil, misalnya petani bambu. ‘Kalau saya memilih bahan dasar besi, impornya dari Tiongkok!’ seloroh Anies seperti yang dikutip detikcom (19/7/2019).

Namun, berbeda dengan pernyataan yang diungkapkan Anies Joko Avianto, sang seniman yang memimpin pembangunan patung instalasi itu menyatakan, biaya pembangunannya hanya menelan dana sekitaran IDR 300 juta saja. ‘Biaya produksi tidak sampai IDR 550 juta,’ ungkap Joko menjelaskan.

Nah, lalu dimana selisih dana yang ada bisa terjadi? Apakah ada penggelembungan dana pada proyek tersebut?

Ternyata, seperti yang dikutip suara dotcom (19/7/2019), ketika dikonfirmasi perihal perbedaan angka tersebut, Anies menyatakan akan mengecek kembali rincian angka-angkanya.

“Ada biaya lain yang membuat total biaya pembangunan jadi sebesar itu,” papar Anies. Menanggapi hal tersebut, Joko Avianto sang seniman juga mengamini bahwa memang ada biaya lain yang tidak masuk dalam hitungannya. Ia menyebutkan antara lain pembuatan taman, biaya perawatan hingga biaya tenaga kerja.

Baca juga  Anies Baswedan mengirimkan personil Untuk Bantu Mengatasi Kebakaran Hutan di Riau

“Juga biaya alat berat untuk membongkar patung!” ujar Joko menambahkan.

Terkait dengan patung bambu karya Joko Avianto ini, Jajang Agus Sonjaya, Direktur Bambubos menyatakan saat Joko Avianto memamerkan instalasi bambu seorang diri di Frankfurt 2015 lalu, karyanya dipuja dunia, tak seorang pun yang mengkritik.

Joko Avianto telah mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional. Indonesia makin kuat image-nya terkait perbambuan, tak kalah oleh Cina, Jepang, dan Colombia.

Sampai-sampai Jajang Agus terkena dampaknya. Ada mahasiswa arsitektur dari Jerman datang ke workshop bambubos untuk belajar bambu.

Karenanya dalam tulisannya tertanggal 17/8/2018 lalu, ia mempertanyakan kenapa begitu Joko Avianto bersanding dengan Anies–membuat instalasi bambu yang mirip dengan karyanya di frankfurt itu–justru jadi bahan olok-olok anak bangsa sendiri. Padahal, nyata-nyata konsep dan makna instalasi bambu di Bundaran HI ini sangat kuat. Kalau boleh membandingkan, lebih kuat dari yang di frankfurt yang jadi gerbang masuk ke sebuah toko buku.

Seperti yang dikatakan Anies dalam getah-getih, bahwa karya ini melambangkan persatuan. Ribuan batang bambu bulat dililit dengan bambu yang sudah digeprek sehingga menjadi ikatan yang lentur dan kuat.

Baca juga  Nasdem Siap Usung Anies Jadi Capres 2024

Joko Avianto, seniman lulusan ITB ini, berhasil mewujudkan pesan itu dalam karya seni yang luar biasa. Ia konsisten menggunakan bambu sejak awal kariernya terkait gagasannya perihal eksploitasi alam. Di dalam keterbatasan pengerjaan yang hanya dalam hitungan minggu, karya ini patut mendapat acungan jempol.

Jajang Agus juga menyayangkan kenapa hati dan pikiran publik sudah tertutup oleh kebencian pada Anies? Banyak yang gagal membaca dan menemukan makna di balik karya ini. Tak bisa dipungkiri, karya ini akan membuka banyak tafsir, misal tentang lilitan silang siur yang berarti keruwetan, kerumitan. Untuk makna karya ini, entah sesuai dengan maksud sang seniman atau tidak, Anies sudah berusaha “memandu” dengan memberikan narasi getah getih.

Apalagi setelah KOMPAS meberitakan tentang biaya 550 juta, mereka mengkaitkan dengan pemborosan dan mark up. Menurut Jajang sebenarnya wajar jika ratusan juta habis untuk karya seni seperti itu. Terlalu murah, malah! Bambu memang harus “mahal” agar dihargai. Kalo murah, bambu akan selamanya diinjak-injak.

Jajang menyatakan dirinya sudah mengerjakan ratusan proyek bambu, termasuk di antaranya seni instalasi. Untuk instalasi seni yang besar macam begini tidak bisa dihitung hanya dengan melihat harga bahan. Butuh perhitungan struktur, riset, ujicoba, dan lain-lain.

Tugu jam yang Jajang Agus buat di Malaysia, misalnya, harganya sekitar 150 juta, padahal hanya menggunakan bambu petung 8 batang dan apus 6 batang. Harga ini di luar transport juga.

Baca juga  Dua Kebijakan Anies Baswedan Ini Banyak Menuai Kritikan

Bambu yang dahulu sangat dihargai dan banyak manfaat, kini mewakili pedesaan, mewakili kemiskinan– citra bahan orang miskin. Ia nongkrong di inti ibukota. Jelas tidak cocok. Jelas timpang. Untuk pembacaan ini, para pembenci Anies benar. Memang itu pesan yang hendak disampaikan Joko Avianto: KONTRAS, TAPI TAK BISU. Instalasi seni berbahan 1.600 batang bambu ini dibentuk sangat dinamis. Saya menangkap pesan “perlawanan”. Ribuan bambu yang diikat kuat itu berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit. Bahan untuk membangun gedung-gedung itu diambil dengan meruntuhkan bukit-bukit kapur dan melubangi bumi. Tak hanya itu, ketika beroperasi ia memboroskan energi yang luar biasa besar, antara lain listrik dan air–tabungan kita bersama.

Selain persatuan, karya Joko Avianto membawa pesan: “kami siap melawan kalian para raksasa!”

Dulu kita menghadapi penjajah dengan bambu runcing. Sejarah berulang, 73 tahun kemudian bambu dipakai untuk menyuarakan kemerdekaan dan persatuan. Sungguh pas dengan momen kemerdekaan hari ini. Kita tunggu beberapa hari ke depan, ketika bambu-bambu itu mengering, warna kuning awi surat akan membawa kesan berbeda–kuning bermakna sejahtera. Itu yang hendak dituju bangsa merdeka.

(Visited 42 times, 1 visits today)