Mon. Jul 6th, 2020

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Dianggap Bersekutu dengan Jokowi, Prabowo Tak Diundang di Ijtimak Ulama IV

2 min read
Ijtimak Ulama IV

Ijtimak Ulama IV

Sharing is Caring

Persaudaraan Alumni (PA) 212 tampaknya benar-benar kecewa atas sikap Prabowo yang bersedia bertemu dengan Jokowi.

Pertemuan yang berlangsung pada Sabtu (13 Juli 2019) di Stasiun MRT Lebak Bulus Jakarta itu dinilai sama saja “mengkhianati” perjuangan PA 212 yang diduga kuat ingin menghadang laju petahana Jokowi ke istana untuk kedua kalinya karena dianggap telah melakukan kriminalisasi terhadap Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab.

Apalagi, terbetik kabar bahwa Prabowo tidak pernah memberitahukan rencana pertemuannya dengan Jokowi. Tak ayal lagi, PA 212 pun tidak lagi menganggap Prabowo sebagai seorang pemimpin. Mereka kembali ke khittah perjuangan untuk membela kepentingan umat Islam di bawah komando Habib Rizieq.

Baca juga  Sebut Habib Rizieq Tokoh Berpengaruh Setara Jokowi, Haikal Hassan Bikin Heboh Penonton ILC

Terkait hal tersebut, PA 212 dikabarkan bakal menggelar Ijtimak Ulama dan Tokoh Nasional IV pada 5 Agustus 2019. Menurut Ketum PA 212 Slamet Maarif, ada 4 topik yang bakal menjadi fokus pembicaraan.

“Agenda pembahasan yakni dakwah, ekonomi, kelembagaan, dan politik. Kemudian membahas tindak lanjut hasil Ijtimak Ulama I,” kata Slamet, Kamis (18/7/2019).

Namun, Slamet belum bisa membeberkan secara rinci poin pembahasan di Ijtimak Ulama IV, termasuk rencana pemulangan Habib Rizieq Syihab ke tanah air.

“Belum tahu. Masih dibahas di Steering Commitee. Kan, Steering Commitee masih menggodok,” kata Slamet seperti dikutip jpnn.com (18 Juli 2019).

Slamet menyebut, PA 212 bakal mengundang beberapa figur ternama di acara Ijtimak Ulama dan Tokoh Nasional IV, terutama mereka yang pernah hadir di Ijtimak Ulama I, II, dan III. Namun, ia memastikan Ketum Gerindra Prabowo Subianto tidak akan diundang.

Baca juga  12 Pasien Positif Corona Sembuh, Terawan Buka Suara: Sesuai Teori, Sembuh Sendiri

Tantangan buat PA 212

Nama 212 tampaknya sengaja dipilih sebagai pengingat perjuangan umat Islam versi elite Aksi Bela Islam yang pada Pilkada 2017 berhasil menumbangkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dari Balai Kota DKI, bahkan berhasil menjebloskan Ahok selama 2 tahun ke penjara dalam kasus penistaan agama.

Momentum itu tampaknya bakal terus diabadikan sebagai kebangkitan ghirah umat Islam dalam menegakkan kebenaran dan keadilan secara politik sehingga PA 212 diduga kuat bakal terus “bermain politik” dengan menggunakan label 212 untuk meningkatkan posisi tawar di tengah dinamika politik yang tengah berlangsung.

Dalam situasi demikian, sangat beralasan kalau sejumlah kalangan menyarankan PA 212 agar menjadi partai politik untuk mendongkrak posisi tawar.

Baca juga  Ribuan Mahasiswa Gunadarma Terancam "Putus" Kuliah
(Visited 26 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.