Thu. Oct 29th, 2020

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Ayah Meninggalkan Banyak Utang Setelah Meninggal. Saat Anak Ingin Membayar, Ternyata…

3 min read
Sharing is Caring

Wanita ini bercerita. Namaku Ratna (nama samaran) dan punya dua kakak laki-laki dalam keluarga. Meskipun aku anak bungsu dan lebih banyak bekerja di rumah daripada kedua kakakku, namun aku tidak pernah mendapat perhatian sedikit pun dari ayah. Jika bukan karena ibu yang lebih bersikap baik, aku benar-benar tidak tahu apa lagi artinya hidup di dunia ini.

Seiring perjalanan waktu, kami pun tumbuh dewasa. Kedua kakakku sudah menikah, dan aku sendiri menikah di luar daerah. Orangtuaku pun akhirnya bisa menikmati masa tua mereka. Namun, belum sempat menikmatinya, tak disangka ayah mengalami kecelakaan dan meninggalkan kami untuk selamanya. Meski sejak kecil sikap ayah tidak baik padaku, tetapi bagaimana pun ia adalah ayah kandungku.

Aku pun kemudian bergegas pulang ke rumah bersama kedua kakakku. Sesampai di rumah, kami pun tidak kuasa menahan tangis saat memandangi tubuh ayah yang sudah terbaring kaku.

Baca juga  5 Fakta Rahasia Area 51 yang Misterius

Setelah proses pemakaman ayah selesai, aku mulai merapikan barang-barang peninggalan ayah. Tanpa diduga, tiba-tiba selembar kertas jatuh dari saku kemeja ayah dan ternyata itu adalah surat hutang ayah.

Tak disangka, ternyata ayah telah meminjam uang begitu banyak dari orang lain. Meskipun aku dan kedua kakakku tidak tahu untuk apa ayah meminjam uang sebanyak itu, tetapi utang itu tetap harus dibayar. Sampai akhirnya, kreditur itu pun datang ke rumah untuk menagih. Kami pun tidak berdaya untuk tidak membayar. Namun, kedua kakakku justru ingin menghindar tapi aku menahan mereka.

Ketika kreditur bertanya tentang utang itu, kakak sulungku langsung berkata, “Surat pernyataan utang itu ditulis dan ditandatangani oleh ayah saya, jadi anda tagih saja ke ayah di sana, saya tidak punya kewajiban untuk membayar utang ayah.”

Baca juga  Buat Apa Suntik Putih, Cukup Dengan Bahan Gratis ini Wajah Putih Cepat

Kakak keduaku juga kemudian berkata, “Entah benar tidak surat pernyataan utang itu, lagi pula mana mungkin ayah berhutang begitu banyak. Kalau hanya beberapa juta rupiah sich saya bisa membayarnya sekarang juga.”

Aku hanya memandangi kedua kakakku dan aku tahu kalau mereka sebenarnya ingin menyangkal utang ayah. Tapi bagaimana pun utang ayah harus tetap dibayar.

Aku kemudian menelepon suamiku dan mengatakan kalau masalah pembelian rumah kami ditunda dulu. Awalnya suamiku memang agak kesal, tetapi akhirnya ia menuruti permintaanku juga. Aku lalu meminta alamat rumah kreditur tersebut, dan setelah itu pulang ke rumah untuk menyiapkan uang tunai.

Keesokan harinya, ketika aku ke rumah kreditur tersebut untuk membayar utang almarhum ayahku, kreditur itu malah tertawa sambil memandangku. Aku pun bingung kemudian bertanya apa yang dia tertawakan, tapi ia diam saja.

Baca juga  Tak Hanya Kimi no Nawa, Inilah Anime Movie Terbaik Karya Makoto Shinkai

Ketika aku menaruh uang di atas meja dan memintanya merobek surat pernyataan hutang itu, kreditur itu pun langsung mengatakan kalau surat hutang itu sebenarnya adalah ujian dari almarhum ayahnya. Ia mengatakan kalau uang itu adalah titipan ayahnya. Setelah kreditur itu menceritakan hal yang sebenarnya, barulah aku tahu kalau kreditur tersebut ternyata adalah saudara angkat almarhum ayah.

Mendiang ayah sadar dengan sikapnya yang seakan tidak pernah peduli kepadaku semasa hidup, jadi ayah menggunakan cara ini untuk mengujiku. Jika aku datang dan membayar hutang, maka saudara dari almarhum ayah itu akan menceritakannya secara detail. Jika aku tidak datang, maka semua uang itu akan disumbangkan untuk membantu orang-orang miskin.

Nah, bagaimana menurut sahabat semua? Bila ada pendapat atau masukan silakan tulis di kolom komentar ya. Jangan lupa berikan like & share juga. Terima kasih.

(Visited 19 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.