Wed. Nov 25th, 2020

Kopi17an

Konten Pilihan Satu Tujuan

Teknologi Pertanian Kreasi Anak Bangsa

3 min read
Sharing is Caring

Teknologi pertanian bertujuan untuk mempermudah pekerjaan di bidang pertanian. Teknologi yang berkembang di Indonesia sendiri berperan besar pada pengembangan alat-alat produksi, pemanfaatan pertanian, dan sektor irigasi. Berikut ini beberapa teknologi pertanian buatan anak bangsa yang luar biasa dalam membantu kemajuan Indonesia di sektor pertanian dan lingkungan.

Berikut beberapa teknologi pertanian hasil buatan anak bangsa.

1. Bioplastik

Hasil gambar untuk bioplastik

Seorang pemuda asal Bali bernama Kevin Kumala berhasil membuat sebuah inovasi berupa bioplastik. Bioplastik tersebut tercipta akibat rasa khawatir dirinya akan kondisi pantai Bali yang dipenuhi dengan sampah. Setelah percobaan bahan plastik menggunakan jagung, kedelai, dan singkong, pilihanannya jatuh kepada singkong. Hal tersebut karena menghasilkan produk lebih banyak dengan harga yang lebih murah.

Bioplastik hasil inovasi dari Kevin ini benar-benar aman untuk makhluk hidup. Plastik dari singkong tersebut dalam 90 hari akan hancur dan menjadi kompos tanaman bila diletakkan dalam tanah.

2. Penghasil listrik dengan pohon kedondong

Hasil gambar untuk Penghasil listrik dengan pohon kedondong

Inovasi ini datang dari seorang anak bernama Naufal, yang baru saja lulus dari MTs Negeri 1 Langsa, Aceh. Naufal membuat listrik dari pohon kedondong sejak umurnya yang masih 12 tahun. Pada saat itu, dirinya menerima pelajaran bahwa buah-buahan seperti kedondong, mangga, belimbing, dan buah dengan kandungan asam lain mampu menghasilkan arus listrik. Ia lekas mencobanya pada pohon kedondong.

Baca juga  Konami Telah Resmi Rilis Ulang TurboGrafx-16

Menurut Naufal, untuk menghasilkan listrik dari pohon kedondong ini dibuthkan tembaga, logam, dan kain ataupun tisu. Caranya, yaitu dengan melubangi pohon, kemudian tembaga dan logam yang telah dilapisi kain atau tisu dimasukkan ke lubang pohon. Kain atau tisu yang telah menyerap asam pohonlah yang mampu membuat tembaga dan logam mengaliri arus listrik.

3. Aplikasi Pemantau Tanaman

Hasil gambar untuk Aplikasi Pemantau Tanaman

Teknologi pertanian karya anak bangsa selanjutnya adalah suatu aplikasi yang bisa mengukur kelembapan dan nutrisi dalam suatu tanaman. Aplikasi tersebut bernama Habibi, dikembangkan oleh perusahaan startup Indonesia, Habibie Garden. Pemantauannya yang real time bisa dimanfaatkan oleh petani untuk mengurangi rusaknya tanaman dan meningkatkan hasil panen.

Baca juga  Asus Rilis Smartphone Gaming Pertama Dengan RAM 12GB + Chipset Snapdragon 855

Cara penggunaan aplikasi Habibi sangat simpel. kalian hanya perlu meletakkan alat di lahan. Lalu, data-data seperti temperatur, cahaya, kadar air, kelembapan, dan nutrisi tanah akan diproses dan dikirimkan ke smartphone kalian. Selanjutnya, ada juga pengontrol yang bernama Habibi dosis pump yang bisa memberikan pupuk serta air kepada tanaman secara terukur dan tepat.

4. Helm green composite

Hasil gambar untuk Helm green composite

Seorang peneliti bernama Siti Nikmatin dan juga merupakan dosen dari Fakultas MIPA IPB berhasil menciptakan helm yang terbuat dari bahan campuran serat tandan kosong kelapa sawit. Helm yang berasal dari serat tumbuhan ini memiliki komposisi 20 persen serat tumbuhan dan sisanya adalah polimer Akrilonitril Butadiena Stiren (ABS). Helm ini dikatakan bisa tahan terhadap benturan.

Menurut penanggung jawab produksi helm Green Composite, helm ini memiliki poin kriteria cedera kepala sebesar 800 poin. Sementara, standar SNI harusnya tidak lebih dari 3000 poin. Helm ini juga lolos standar negara Amerika yang tidak boleh lebih dari 1000. Dengan begitu, helm ini sangat cocok untuk melindungi kepala dan lolos untuk pemasaran internasional.

Baca juga  Siang Ini Tiga Varian SUV Suzuki XL7 Hadir di Indonesia

5. Drone sawah

Hasil gambar untuk Drone Sawah

Meskipun drone bukan buatan dari Indonesia, Balai Penelitian Lingkungan Pertanian Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa tengah, berhasil memanfaatkan teknologi tersebut untuk kegiatan pertaniannya. Pemanfaatan drone di kecamatan tersebut adalah sebagai penyemprot pestisida. Berkat teknologi drone, penyemprotan dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Selain bisa mengurangi dampak terpaparnya pestisida terhadap penyemprotnya, penyemprotan pestisida ini bisa dilakukan sangat singkat untuk lahan yang luas. Dipaparkan bahwa penyemprotan satu hektare sawah hanya dilakukan selama setengah jam. Sementara, apabila menggunakan cara manual, bisa memakan waktu sampai tiga jam lamanya.

Baca Juga : Benda ini Hampir Punah Seiring Perkembangan Zaman !

(Visited 52 times, 1 visits today)

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.